Sering kita lihat di televisi, baca di koran pagi, atau mungkin melihat sendiri, penangkapan yang dilakukan oleh pihak kepolisian pada remaja-remaja muda yang masih duduk di bangku Kuliah, SMA, SMP bahkan SD karena kedapatan memakai barang yang bernama Narkoba. Tak hanya itu, hampir setiap hari ada saja berita tentang kesusilaan yang dilakukan pasangan muda-mudi yang masih muda dan status mereka kadang masih pelajar atau mahasiswa. Mereka dengan bangganya membuat sebuah video porno dan me-upload-nya ke internet (baik secara sengaja atau tidak,red). Internet yang sebenarnya digunakan untuk mencari informasi tentang dunia yang luas ini dengan kecanggihan teknologi, sebuah teknologi yang mudah dalam mendapatkan informasi. Tapi teknologi ini tampaknya di salahgunakan oleh tangan-tangan tak bertanggungjawab.
“Seorang anak SD memperkosa temannya sendiri”, mungkin headline itu adalah salah satu headline mengejutkan yang pernah dibaca. Bagaimana tidak? Seorang anak SD yang masih berusia sekitar 6-12 tahun sudah melakukan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan oleh anak seumurannya. Ini tak lain tak bukan adalah karena dengan mudahnya mereka mendapatkan informasi, gambar, atau video dengan mudahnya lewat internet. Bisa dibilang, gambar-gambar sampai video-video porno di internet, dapat dengan mudah di access oleh para user internet yang terbilang masih anak kecil ini. Satu kali, saya pernah main ke warnet di kota saya. Kebetulan saat itu adalah waktu pulang sekolah dan warnet saya berada dekat dengan sebuah sekolah. Alhasil, saat waktu pulang sekolah, warnet yang memang satu-satunya di area itu, segera diserbu oleh puluhan pasukan putih merah. Tak lama setelah beberapa anak mulai masuk ke bilik-bilik warnet, kudengar suara tawa. Awalnya saya mengira mereka sedang bermain game atau melihat gambar lucu. Tapi kok omongan mereka sepertinya melantur, akhirnya saya sedikit mengintip di bilik sebelah yang kebetulan sedang di tempati beberapa anak SD. Ya Tuhan! Ternyata dugaan saya salah 180 derajat. Bukan gambar lucu yang mereka lihat dan membuat mereka tertawa, tapi gambar seorang gadis bugil alias mereka membuka web porno. Sepertinya hal tersebut menjadi hal yang lucu buat mereka, jadi tak ada salahnya jika judul di atas menjadi headline sebuah surat kabar.
Berbeda lagi dengan cerita di warnet, ketika akan berangkat ke kampus untuk kuliah siang, saya yang terbiasa naik angkot, melihat beberapa anak jalanan sedang mengamen di perempatan lampu merah. Setelah sedikit mengamen, mereka kembali ke depan sebuah teras toko yang saat itu sedang tutup. Kulihat anak-anak kira-kira berumur 12-15 tahun sedang berkumpul. Mereka terlihat mengilir sebuah barang yang kuliat seperti sebuah lem. Yang anehnya, saya lihat mereka menghirup lem tersebut yang saya tahu baunya memang cukup tajam di hidung. Ternyata mereka bisa dibilang kecanduan dengan zat yang ada di lem tersebut atau bisa dikategorikan mereka juga sebagai pecandu narkoba.
Mungkin dua kisah dia atas bisa sedikit menggambarkan bagaimana keadaan generasi penerus negara kita ini. Pornografi,pornoaksi, atau narkotika, seakan menjadi “makanan biasa” di negara yang berdasarkan PANCASILA. Jika dibiarkan terus menerus, tak dapat dipungkiri lagi bahwa negara ini bisa hancur. Ada yang bilang bahwa menghancurkan sebuah negara adalah dengan menghancurkan generasi mudanya dahulu. Nah, jika generasi bangsa Indonesia seperti di atas, apakah negara ini akan terus bertahan atau akan menjadi kenangan saja??
Sebenarnya kita bisa mencegah dan menghentikan apa yang sedang dialami para generasi penerus bangsa ini. Mudah kita melakukannya jika semua pihak mau bekerja sama. Awalnya adalah dari keluarga, keluarga adalah tempat yang paling berpengaruh dalam perubahan cara berpkir, tingkah laku seorang anak. Dalam keluarga, hendaknya orang tua berperan penting dalam perkembangan anaknya. Dengan menanamkan pendidikan agama yang baik dan benar, sang anak akan tumbuh menjadi anak yang tak “macam-macam” karena iman mereka yang kuat. Lalu lingkungan juga harus mendukung. Salah satu faktor eksternal ini ternyata menjadi salah satu penyumbang terbesar rusaknya moral generasi muda Indonesia. Luas hal yang menyangkut lingkungan itu, mulai dari temen, tempat tinggal, dan pergaulan. Ini hendaknya juga menjadi salah satu point penting yang perlu diperhatikan. Sekolah atau kampus pun juga merupakan salah satu pemeran yang harus aktif dalam membantu perbaikan ini. Mungkin dengan seringnya razia atau tata tertib yang dilakukan pada siswa atau mahasiswanya. Mungkin saja mereka membawa narkotik atau hal-hal yang berbau negative ke dalam lingkungan pendidikan. Jika memang ditemukan, hendaknya segera di tindak.
Tapi juga ada salah satu faktor yang paling berperan. Mereka adalah masyarakat dan pemerintah. Masyarakat sebagai wadah bersosialisasi para generasi ini, hendaknya juga mendukung. Satu contoh, jika anak-anak SD yang tadi ketahuan membuka situs atau melihat gambar/video porno, hendaknya menegur atau paling tidak membatasi situs-situs pada warnet di jam-jam tertentu. Memang jika dilihat ini memang sebuah privasi, tapi itukan hanya bagi mereka yang cukup umur, dan tidak untuk mereka yang masih kecil ini. Tapi kadang pengusaha warnet, umumnya, membiarkan karena mereka juga harus mengejar high period time online(durasi waktu yang lama untuk online) supaya mereka bisa mendapatkan untung yang besar. Tapi, tak ada salahnya kan jika hanya kehilangan sedikit materi daripada kehilangan bangsa dengan “membatasi” access mereka????. Dan untuk pemerintah, hendaknya tak ada lagi yang namanya anak jalanan atau pengemis di perempatan lampu merah. Kan sudah tertulis di undang-undang bahwa “anak-anak jalanan dan fakir miskin dipelihara oleh negara”. Jika itu tertulis di UUD, kenapa kenyataanya masih bertolak belakang?? Bahkan lebih parah!!. Kan UUD juga merupakan salah satu dasar negara. Jika dasar negara saja tak di taati, bagaimana negara ini bisa maju???
Yah mungkin mudah jika kita hanya bicara, tapi sulit untuk realisasinya. Tapi ini merupakan kenyataan yang memang harus kita hadapi. Kenyataan di negara Republik Indonesia tercinta kita ini dan yang sering kita banggakan. Kenyataan yang menjadi PR buat kita yang peduli akan bangsa kita sendiri. Semoga posting ini dapat membuka sedikit pikiran para blogger yang membacanya.
Terimakasih….
26 September 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar