02 Oktober 2007

Kavaleri dan Infanteri Kristen

Kalau yang membaca Asterix mungkin juga sering melihat ilustrasi Julius Caesar mengendarai kereta kuda dengan anggunnya. Sewaktu melihat ilustrasi-ilustrasi tersebut, sering kali terasa (terutama waktu kecil), betapa inginnya duduk diatas kuda dengan gagahnya, melaju ke medan perang dan menang.
Tapi fakta aslinya tak seindah gambar-gambar itu. Hancurnya "feudalisme" di Eropa selain karena faktor sosial juga lebih banyak karena para jendral di abad pertengahan menemukan pasukan anti-kavaleri: artileri, pemanah, dan pikeman (infanteri dengan tombak panjang), yang sangat murah tapi bisa mengancurkan serangan pasukan kavaleri. Dalam fakta sejarahnya juga, pasukan kavaleri atau kereta (chariot) tak terlalu efisien kecuali dalam kondisi tertentu. Pasukan kereta memerlukan daerah yang benar-benar datar, seperti padang pasir; begitu mereka masuk ke daerah pegunungan seperti China atau Eropa, kereta tak lagi bisa efektif: mudah sekali untuk kereta-kereta tersebut untuk terbalik hanya karena menyenggol satu batu kecil. Kuda perang tak cocok bertempur di pegunungan. Penyebaran Islam yang oleh pedang, unta, dan kuda efektif di daerah Timur Tengah yang relatif datar tapi tidak di daerah Eropa yang bergunung. Perhatikan juga: daerah-daerah mana yang gagal dikuasai pasukan Genghis Khan? Eropa tengah yang bergunung, selatan China yang penuh hutan rimba, dan Jepang yang dilindungi laut.
Selain itu, pasukan kereta, gajah, kavaleri, bahkan di jaman sekarang ini, tank; sangatlah mahal. Misalnya pasukan kereta: perlu ditarik oleh 3-4 kuda, kemudian diisi tiga orang, pengemudi, pemegang tameng, dan penombak. Pasukan kavaleri ksatria: biaya kuda dan juga membeli baju zirah itu sangat tinggi, apalagi di abad pertengahan yang belum mengenal tekhnologi modern.
Jadi apa gunanya kavaleri atau pasukan kereta, atau bahkan pasukan gajah? Tidak lain sebagai "shock troop," pasukan yang mengagetkan pasukan musuh karena kecepatan dan "terror"-nya. Bayangkan, bagaimana rasanya di depan kuda yang melaju, yang ditunggangi ksatria yang mengarahkan tombaknya kehadapan pembaca? Tentunya sangat menakutkan. Tapi shock itu hanya sementara. Korban pasukan kavaleri sendiri tak akan terlalu banyak. Begitu shock terjadi dan mengakibatkan barisan musuh terbelah dan kacau, pasukan infanteri perlu langsung dengan cepat mengisi belahan itu dan menghancurkan pasukan musuh. Tak heran kalau di medan perang, jauh lebih banyak infanteri, sedangkan cavaleri hanya sedikit. Misalnya di perang saudara US (1861-5), kedua pihak memiliki 96,885 infantry dan 10,596 kavaleri. Jadi, memang pasukan kavaleri dibutuhkan dalam perang, tapi tanpa kerja samanya dengan pasukan infanteri, pasukan kavaleri tak akan bisa memberikan kemenangan mutlak atau jangka panjang.
Sebelum pembaca merasa bahwa tulisan ini isinya hanya tentang taktik perang, mari saya sekarang masuk ke inti permasalahan yang ingin saya sampaikan dengan ilustrasi di atas; yakni persamaan antara "kavaleri-infanteri" dengan gereja Indonesia. Saya memperhatikan bahwa di milis-milis baik FICA ataupun milis Kristen lain, condong memberikan pujian kepada orang-orang yang dianggap ahli theologia atau membangkitkan semangat 45 melalui KKR. Terlihat jelas bahwa banyak gereja di Indonesia terlalu condong dalam membentuk pasukan-pasukan kavaleri seperti ahli-ahli theologia/apologetika, atau pendeta pemimpin, daripada pekerja infanteri yang sebetulnya sangat critical, seperti seorang yang kerjaannya menjadi gembala atau pekerja di background, seperti guru-guru sekolah minggu.
Ini bukan merupakan problematika yang baru. Bahkan sejak pertama kali reformasi terjadi di masa Luther, hal ini sudah menjadi masalah besar, di mana theolog-theolog baru yang dihasilkan universitas-universitas lebih tertarik untuk terjun dalam debat polemik theologia Calvinis lawan Lutheran lawan Katolik daripada menjadi pasukan infanteri yang melakukan pelayanan yang tak terlihat. Lulusan sekolah theologi lebih ditekankan ilmu debat yang menyerang Katolik, bukan pelayanan kepada jemaat. Kalau pun ada penggembalaan, fokus pelayanannya bukan kepada massa yang tak memiliki uang atau pengaruh. Contohnya ada satu gereja yang sampai menyewa tukang pukul untuk mengusir orang-orang yang dianggap kurang beriman atau kurang berpendidikan. Pada masa itu, orang-orang yang bisa mengerti theologia reformasi hanyalah sedikit, yakni intelektual yang memang bisa membaca, sedangkan agar bisa mengerti seperti itu, orang-orangnya perlu memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Pertanyaannya: siapa yang waktu itu bisa memiliki pendidikan tinggi? Hanyalah bangsawan dan orang kaya. Tak heran, akibatnya terjadi dua fakta penting yang kurang dibahas dalam sejarah gereja: reformasi menyebabkan angka orang atheis meningkat dan pengaruh Lutheran/Calvinis sendiri dalam hanya beberapa tahun setelah reformasi sebetulnya menurun drastis.
Saya tak ragu kalau hal di juga terjadi di Indonesia. Gereja kebanyakan hanya untuk orang-orang kaya. Contohnya: gedung gereja dengan harga milyaran, apakah pembantu rumah tangga atau rakyat kecil yang miskin berani masuk ke gedung-gedung seperti itu tanpa rasa risih karena mereka tak memiliki baju super mahal dan dikelilingi orang-orang yang berpakaian seperti kaisar? Kalau dengan perumpamaan saya di atas, saya bilang itu adalah gereja tipe kavaleri.
Bagaimana dengan para pendeta? Terlihat fokus dari gereja hanyalah membentuk pendeta kavaleri, yang hanya mau khotbah di depan massa yang minimal 1000 orang atau orang-orang kaya. Ini tidak salah, asalkan didukung oleh "infanteri" yang kemudian membantu orang-orang yang berhasil "dijamah" dan digembalakan. Tapi sering kali yang terjadi hanya sebuah KKR, tanpa dilanjutkan oleh usaha-usaha gereja untuk menggembalakan domba-Nya.
Memang lebih menyenangkan untuk menjadi pasukan kavaleri: tenar. lebih terlihat, lebih banyak duit, dsb. Siapa yang tak mau memimpin KKR dan digaji dengan uang kolekte sampai milyaran? Memang ada juga perhatian ditempatkan untuk pasukan infanteri, tapi permasalahannya adalah perhatiannya lebih ditujukan kepada pasukan infanteri yang berperan untuk meningkatkan keagungan pasukan kavaleri. Misalnya dalam KKR, cukup banyak perhatian ditujukan untuk pasukan infanteri yang mati-matian mengusahakan agar KKR itu terjadi seperti orang yang menyusun booklet, menghias gedung, pokoknya kacung-kacung yang tanpa meraka itu KKR tak akan bisa terjadi.
Sayangnya perhatian yang sama tak ditujukan ke pasukan infanteri lain yang tak bekerja secara langsung untuk kejayaan pasukan kavaleri itu. Misalnya infanteri pengajar sekolah Minggu. Saya sering mendengar guru-guru sekolah Minggu ditempatkan di ruangan kumuh gereja, tanpa sarana memadai. Di satu gereja, guru sekolah minggu mengajar di sebuah ruangan tempat sang pendeta memelihara hewan peliharaannya, seperti burung hias.
Sayang sekali pasukan kavaleri itu tak menyadari bahwa tanpa pasukan infanteri yang mati-matian mengajar sekolah minggu atau membantu konseling, atau pokoknya fungsi sosial lain, gereja tak akan bisa berfungsi. Di tempat lain, pasukan infanteri Kristen yang berusaha terjun di bidang politik tak didukung penuh oleh gereja. Beberapa gereja sampai melarang anggotanya ikut politik atau berpartisipasi karena ingin agar semua resources demi keagungan pasukan kavaleri gereja. Kalaupun ada resources, gereja daripada membangun sekolah untuk orang miskin atau gerakan sosial lain, lebih memfokuskan untuk membangun gedung gereja super atau sekolah yang tujuannya cari duit. Satu yayasan Kristen di Indonesia misalnya, terkenal memiliki resources yang sangat tinggi, tapi kebanyakan resourcesnya dilempar untuk membeli tanah, tanpa lebih meningkatkan sekolah atau memperbanyak sekolah untuk orang- orang miskin. Sayangnya memang penekanan gereja kita hanyalah untuk pasukan kavaleri saja.
Salah satu peserta milis ini pernah bertanya kepada saya, bahwa kenapa kok Islam kelihatannya lebih maju dari Kristen dari segi politik dan sosial? Jawaban saya adalah kehebatan mereka terletak bukan dari segi jumlah, tapi justru dari koordinasi pasukan mereka yang brilyan. Pasukan kavaleri mereka hebat-hebat, seperti Ulil, Cak Nur, Gus Dur, dsb. Hebatnya mereka juga menekankan sekali ke peran infanteri, seperti pembangunan madrasah, pesantren, dsb. Kerja sosial mereka bukan hanya seperti kita, yang bangkit kalau digebuki seperti Mei 1998, tapi justru sepanjang saat, karena mereka kuatir tentang "Kristenisasi."
Hebatnya justru kita yang sering menggembar-gemborkan bahaya "Islamisasi" tak pernah memikirkan untuk mengkoordinasi gerakan Kristen. Kebanyakan hanya tertarik sebagai pasukan kavaleri saja. Kalau ada gerakan untuk meningkatkan pasukan infanteri, kebanyakan ditentang pendeta atau penatua dengan alasan bahwa itu tak menguntungkan gereja atau tak membantu pasukan kavaleri. Justru harusnya yang terjadi sebaliknya: pasukan kavaleri digunakan untuk membantu pasukan infanteri. Kavaleri membantu untuk mendobrak musuh, menciptakan celah yang mampu diisi pasukan infanteri dengan cepat sehingga musuh bisa dikalahkan.
Yang terjadi sering kali, pendeta dengan hebatnya mengomando pasukan kavaleri maju terus ke depan, memberikan kerusakan kepada musuh, tapi kemudian pasukan musuh berbalik kembali menghancurkan kita. Contohnya apa? Itu Laskar Jihad.... Kita tahun 1980-an fokusnya sama: menyerbu dengan pasukan kavaleri tanpa mengirimkan infanteri untuk mengisi celah yang dibuat. Begitu 1990 terjadi "counterattack" oleh ICMI, DDII, dsb; kita tak memiliki infanteri untuk bertahan. Sekarang kita ada ruang untuk bernafas, walau sekejab, maukah kita membentuk taktik baru, koordinasi antara kedua pasukan untuk membentuk "Laskar Kristus" yang hebat?
Sebelum saya menyudahi tulisan ini, saya minta kepada saudara- saudari pembaca tulisan ini, tolong, kalau hari Minggu bertemu dengan guru sekolah minggu atau orang lain yang kurang dihargai pelayanannya di gereja (e.g. sound system operator, tukang sapu, dsb), tolong luangkan sedikit waktu untuk mengatakan terima kasih karena mau menjadi pasukan infanteri.

Tidak ada komentar: