Kurangnya jiwa kepemimpinan menyebabkan krisis ekonomi masih terasa di Indonesia. Selama enam tahun ini, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan negara lain di kawasan Asia. Negara-negara tersebut sudah mampu keluar dari krisis dan menata ekonominya untuk menyambut permainan globalisasi dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Penyebab kemajuan mereka, menurut Charlo Mamora, Managing Partner Transforma, karena adanya dukungan dari perusahaan-perusahaan yang dapat menyikapi krisis tersebut dengan arif. Demikian dilaporkan harian Media Indonesia.
"Mereka melakukan penyelarasan pola pikir individu dan pembenahan kepemimpinan top team untuk organisasi. Kedua hal ini adalah yang paling menentukan dan membedakan suatu organisasi akan menjadi pemenang, biasa-biasa saja, atau bahkan punah," katanya di seminar Top Team Leadership di Jakarta baru-baru ini.
Lebih lanjut Charlo mengungkapkan, Jepang berhasil mengejar ketertinggalannya dengan Barat melalui gerakan kualitas, dan Korea mampu bersaing di pasaran internasional dengan program survival atau kuantum.
"Indonesia sebenarnya dapat mengikuti jejak kedua bangsa itu, mengejar ketertinggalan melalui gerakan penyelarasan mindset (mindset alignment movement). Tetapi, selama pejabat pemerintah melihat dirinya sebagai penguasa bukan pelayan masyarakat, selama itu pula perubahan berarti tidak akan terjadi. Selama mentalitas guru melihat dirinya sebagai pengajar, bukan sebagai pendidik, selama itu pula kualitas sumber daya manusia kita tidak akan mengalami perubahan besar," ucapnya.
Begitu juga dalam dunia bisnis. Menurut Charlo, perusahaan sebagai pelaku utama harus meninjau pola pikir yang dianut. Perusahaan harus berani mengubah pola pikir yang merugikan. Untuk itu, ada lima hal yang harus diperhatikan. Pertama, adanya visi yang menantang secara bisnis dan memiliki daya pikat bagi karyawan melalui transformasi komunikasi dari pimpinan. Visi perusahaan tersebut harus melekat di semua jajaran karyawan. Kedua, adanya program kuantum, atau lompatan dari perusahaan untuk mencapai nilai ekonomis yang tinggi.
Ketiga, adanya budaya dan praktik pengembangan talenta. Itu berarti, semua orang diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuannya. Keempat, adanya proses plan-do-check-action (PDCA) yang berjalan pada setiap organ perusahaan dan terintegrasi secara keseluruhan. Kelima, adanya bahasa persatuan kerja dan interaksi dengan pelanggan atau pihak luar organisasi yang dijalani oleh keseluruhan orang dalam organisasi.
Kelima hal itu menurut Charlo membutuhkan tenaga yang luar biasa, tidak cukup lagi hanya dengan seorang CEO yang kuat seperti masa lalu.
03 Oktober 2007
Doa: Bukan Sekedar Kata-Kata Indah!
Dalam setiap ibadah hari Minggu kita menaikkan doa syafaat bagi jemaat-jemaat yang lain. Biasanya doa syafaat itu berbunyi demikian, "Ya Allah, saat ini kami teringat saudara-saudara yang tidak bisa hadir dalam kebaktian malam ini. Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia, yang karena keterbatasan tubuh, tidak bisa lagi datang ke gereja. Mohon Tuhan lawat mereka dan berikan mereka penghiburan. Kami juga berdoa bagi saudara-saudara yang sakit, kiranya Tuhan bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka. Bagi teman-teman yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Tuhan hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan." Terdengar pula doa yang biasa dipanjatkan ketika orang kristen ketika hendak makan, "Terima kasih Tuhan Yesus, untuk makanan yang Engkau berikan kepada kami malam hari ini. Saat ini kami teringat orang-orang miskin, para gelandangan yang kekurangan makanan. Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Tuhan. Mohon Tuhan memberkati, sehingga mereka bisa makan seperti kami." Doa-doa di atas adalah doa-doa yang indah. Tapi, doa bukan sekedar kata-kata meskipun kata-kata itu indah. Tapi doa seharusnya adalah sesuatu yang menggerakkan kita yang berdoa untuk melakukan suatu tindakan yang nyata. Bagaimana doa yang menggerakkan kita untuk beraksi? Seharusnya kita berdoa syafaat demikian, "Ya Tuhan kami berdoa untuk saudara-saudara yang sudah lanjut usia, utuslah kami kepada mereka untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pakailah kami sebagai alat Tuhan untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang sakit supaya mereka mendapat kekuatan. Dan biarlah kami boleh menghibur saudara-saudara kami yang lemah iman dan mendapatkan masalah yang berat supaya mereka dapat merasakan kasih dan penghiburan." Sedang doa makan yang tidak sekedar kata-kata, misalnya, "Ya Tuhan Yesus, kami berterima kasih untuk makanan ini. Saat ini kami teringat orang-orang yang kelaparan, doronglah kami untuk membagi kepada mereka apa yang kami punya." Apakah Anda sekedar berkata-kata indah dalam berdoa?
Development Of Personal Self Confidence
Self confidence, for many of us, is a nebulous feeling. It is hard to quantify exactly what it is. It seems hard to acquire but easy to dismantle. You can't really see it or touch it but you know when someone has it and (usually) when they don't. However, it is a state that is needed as a foundation for building anything. So what is self confidence anyway?
Self confidence begins with trust. It is trusting in your own abilities, strengths and attributes. It is the ability to take action and succeed. It is also the ability to take action and fail without allowing the failure to reflect badly on your own internal self of identity.
The true essence of self confidence lies in faith and belief. The belief in your own abilities. It is having a sense of self worth and feeling no less than anyone else. Self confidence means that no matter what happens you know that can deal with it. It is really having a sense of Self. Being aware that you are just fine as you are and being aware that those little imperfections that you do have are a part of who you are. They are part of the unique individual that makes you special.
So what leads to a lack of confidence?
Well, each of us have a self-protection mechanism built into us, and although this is much needed, it can cause untold damage in other areas of our lives. There is a self protection program that is hot-wired into the brain and energy system of every living thing. Its role is to protect us. It protects us from dangerous situations by accessing memories and reminding us of the previous discomfort!
Let me explain with an example. If you touch a hot coal you get burned and you know not to touch it again - your self-protection mechanism kicks in. If you encounter a red-hot coal in the future you keep your hands and body far enough away so you don't feel the burning sensation and the pain associated with it. Your subconscious mind programs into your brain the fear of getting too close to hot coals. This memory, or just the fear and pain connected to it, is immediately evoked and sent to the conscious mind by the subconscious when it feels you are in danger of getting burnt. This mechanism, for self-preservation, has protected you from an infant. Unfortunately though, it also works against you in a lot of different ways.
Let's look at one. Say that, in the past, you tried to perform a task and failed, only to be ridiculed or laughed at by peers, family, friends or authority figures. This may have embarrassed you and made you feel inadequate. Your subconscious mind automatically stored this scenario and the emotion associated with it in your memory through, what are called, schemas. These are neural networks in the brain that fire in sequence and send electrical impulses to the body telling it to release certain chemicals (which produce emotional responses). A neural connection is made between the memory of the event and the emotion you felt at the time. When faced with a similar circumstance in the future you will have problems. The subconscious mind immediately activates the schema and the neural network begins to fire. Thus the subconscious mind replays the memory and the original emotions are evoked in order to protect you! This is done purely so that you do not feel belittled again.
For example, you may have tried to paint a picture. Those who were in your vaccinity at the time may have chuckelled or made fun of you. This caused you embarrassment and the feeling of being ostracized like the "odd man out". You lacked the approval of your peers. Like a computer your subconscious filed this information away on your memory banks to be accessed at a later date when it thinks you need it. 20 years later you still have a desire to paint but won't even go to a night class to learn because the thought of painting brings forth the emotions of disapproval, embarrassment and fear. The subconscious mind replays the emotions associated with the old memory even if you can't recall the actual event ever having happened. You are actually getting a very clear message from your subconscious mind and it is telling you that if you try to paint again you feel all those terrible feelings. It reminds you by showing you the feelings again!".
Usually such emotional memories stem back to childhood from the time when you were most impressionable but not always. You can just as easily encounter such problems when you are an adult and the key to protecting yourself from such negative influences is to develop a better sense of yourself and build your confidence. This is at the very core of all personal development and self improvement techniques!
In reality you have no idea what the outcome will be when you start something new . As an adult, you should be able to try new things without the fear of what ridicule, or condemnation from others, would do to your confidence.
Self confidence is having the ability to feel the fear and do it anyway. In reality you have no idea what the outcome will be when you perform a task that is new to you. However, with increased self confidence you will be more expectant of a desirable result. Should you not have the outcome you desire you are then capable of looking at the situation realistically, determining what you need to learn and develop in order to succeed at it or at least be able to accept the fact that your are not suited to the activity without "freaking out" about it.
Many people believe that you are either born with confidence or you are not. The truth is we are all born confident! You demanded what you wanted and let everyone around you know it by wailing because you believed in your own self-worth and knew that you deserved it. You tried to walk several times while falling knowing that eventually you would get it. This is confidence. Unfortunately this kind of confidence is usually programmed out of us but it is your NATURAL sate. It's time to get it back.
Firstly, you should be kind to yourself. Don't expect perfection. Do you think Tiger Woods got a hole in one the first time he played golf? Even if he was born with a natural aptitude for playing the sport it is most likely that when he first attempted it he was not very good as he lacked the skills and knowledge of more experienced players!
The thing that builds your confidence is trying things that you haven't done before. Try to do something that scares you. Those people who have self confidence are willing and often eager to try new challenges not because they are certain of success but because they have enough belief in themselves to give it a try. They refuse to give into their own fears. If there was no fear or uncertainty then there would only be knowing! Confidence is not knowing but trying anyway.
The good news is that there are strategies and approaches you can learn to build your confidence level to a new all-time high. Once you learn these and begin to apply them you will feel better able to try new things and enter new situations. Then as you begin to succeed and realise that the world didn't stop spinning because you faced your fear, you will gain more and more confidence.
The best advice I can give you is to use some of the excellent tools available for building up your self confidence and self esteem. Hypnosis and emotional releasing techniques can be invaluable. The personal development industry has a myriad of products and you should pick one that resonates with you. However, you have all the power within that you need to change yourself from the inside out. Make the decision now to face one fear a week and do it. You will build your self confidence to a level that you can not even now imagine.
Self confidence begins with trust. It is trusting in your own abilities, strengths and attributes. It is the ability to take action and succeed. It is also the ability to take action and fail without allowing the failure to reflect badly on your own internal self of identity.
The true essence of self confidence lies in faith and belief. The belief in your own abilities. It is having a sense of self worth and feeling no less than anyone else. Self confidence means that no matter what happens you know that can deal with it. It is really having a sense of Self. Being aware that you are just fine as you are and being aware that those little imperfections that you do have are a part of who you are. They are part of the unique individual that makes you special.
So what leads to a lack of confidence?
Well, each of us have a self-protection mechanism built into us, and although this is much needed, it can cause untold damage in other areas of our lives. There is a self protection program that is hot-wired into the brain and energy system of every living thing. Its role is to protect us. It protects us from dangerous situations by accessing memories and reminding us of the previous discomfort!
Let me explain with an example. If you touch a hot coal you get burned and you know not to touch it again - your self-protection mechanism kicks in. If you encounter a red-hot coal in the future you keep your hands and body far enough away so you don't feel the burning sensation and the pain associated with it. Your subconscious mind programs into your brain the fear of getting too close to hot coals. This memory, or just the fear and pain connected to it, is immediately evoked and sent to the conscious mind by the subconscious when it feels you are in danger of getting burnt. This mechanism, for self-preservation, has protected you from an infant. Unfortunately though, it also works against you in a lot of different ways.
Let's look at one. Say that, in the past, you tried to perform a task and failed, only to be ridiculed or laughed at by peers, family, friends or authority figures. This may have embarrassed you and made you feel inadequate. Your subconscious mind automatically stored this scenario and the emotion associated with it in your memory through, what are called, schemas. These are neural networks in the brain that fire in sequence and send electrical impulses to the body telling it to release certain chemicals (which produce emotional responses). A neural connection is made between the memory of the event and the emotion you felt at the time. When faced with a similar circumstance in the future you will have problems. The subconscious mind immediately activates the schema and the neural network begins to fire. Thus the subconscious mind replays the memory and the original emotions are evoked in order to protect you! This is done purely so that you do not feel belittled again.
For example, you may have tried to paint a picture. Those who were in your vaccinity at the time may have chuckelled or made fun of you. This caused you embarrassment and the feeling of being ostracized like the "odd man out". You lacked the approval of your peers. Like a computer your subconscious filed this information away on your memory banks to be accessed at a later date when it thinks you need it. 20 years later you still have a desire to paint but won't even go to a night class to learn because the thought of painting brings forth the emotions of disapproval, embarrassment and fear. The subconscious mind replays the emotions associated with the old memory even if you can't recall the actual event ever having happened. You are actually getting a very clear message from your subconscious mind and it is telling you that if you try to paint again you feel all those terrible feelings. It reminds you by showing you the feelings again!".
Usually such emotional memories stem back to childhood from the time when you were most impressionable but not always. You can just as easily encounter such problems when you are an adult and the key to protecting yourself from such negative influences is to develop a better sense of yourself and build your confidence. This is at the very core of all personal development and self improvement techniques!
In reality you have no idea what the outcome will be when you start something new . As an adult, you should be able to try new things without the fear of what ridicule, or condemnation from others, would do to your confidence.
Self confidence is having the ability to feel the fear and do it anyway. In reality you have no idea what the outcome will be when you perform a task that is new to you. However, with increased self confidence you will be more expectant of a desirable result. Should you not have the outcome you desire you are then capable of looking at the situation realistically, determining what you need to learn and develop in order to succeed at it or at least be able to accept the fact that your are not suited to the activity without "freaking out" about it.
Many people believe that you are either born with confidence or you are not. The truth is we are all born confident! You demanded what you wanted and let everyone around you know it by wailing because you believed in your own self-worth and knew that you deserved it. You tried to walk several times while falling knowing that eventually you would get it. This is confidence. Unfortunately this kind of confidence is usually programmed out of us but it is your NATURAL sate. It's time to get it back.
Firstly, you should be kind to yourself. Don't expect perfection. Do you think Tiger Woods got a hole in one the first time he played golf? Even if he was born with a natural aptitude for playing the sport it is most likely that when he first attempted it he was not very good as he lacked the skills and knowledge of more experienced players!
The thing that builds your confidence is trying things that you haven't done before. Try to do something that scares you. Those people who have self confidence are willing and often eager to try new challenges not because they are certain of success but because they have enough belief in themselves to give it a try. They refuse to give into their own fears. If there was no fear or uncertainty then there would only be knowing! Confidence is not knowing but trying anyway.
The good news is that there are strategies and approaches you can learn to build your confidence level to a new all-time high. Once you learn these and begin to apply them you will feel better able to try new things and enter new situations. Then as you begin to succeed and realise that the world didn't stop spinning because you faced your fear, you will gain more and more confidence.
The best advice I can give you is to use some of the excellent tools available for building up your self confidence and self esteem. Hypnosis and emotional releasing techniques can be invaluable. The personal development industry has a myriad of products and you should pick one that resonates with you. However, you have all the power within that you need to change yourself from the inside out. Make the decision now to face one fear a week and do it. You will build your self confidence to a level that you can not even now imagine.
02 Oktober 2007
Kavaleri dan Infanteri Kristen
Kalau yang membaca Asterix mungkin juga sering melihat ilustrasi Julius Caesar mengendarai kereta kuda dengan anggunnya. Sewaktu melihat ilustrasi-ilustrasi tersebut, sering kali terasa (terutama waktu kecil), betapa inginnya duduk diatas kuda dengan gagahnya, melaju ke medan perang dan menang.
Tapi fakta aslinya tak seindah gambar-gambar itu. Hancurnya "feudalisme" di Eropa selain karena faktor sosial juga lebih banyak karena para jendral di abad pertengahan menemukan pasukan anti-kavaleri: artileri, pemanah, dan pikeman (infanteri dengan tombak panjang), yang sangat murah tapi bisa mengancurkan serangan pasukan kavaleri. Dalam fakta sejarahnya juga, pasukan kavaleri atau kereta (chariot) tak terlalu efisien kecuali dalam kondisi tertentu. Pasukan kereta memerlukan daerah yang benar-benar datar, seperti padang pasir; begitu mereka masuk ke daerah pegunungan seperti China atau Eropa, kereta tak lagi bisa efektif: mudah sekali untuk kereta-kereta tersebut untuk terbalik hanya karena menyenggol satu batu kecil. Kuda perang tak cocok bertempur di pegunungan. Penyebaran Islam yang oleh pedang, unta, dan kuda efektif di daerah Timur Tengah yang relatif datar tapi tidak di daerah Eropa yang bergunung. Perhatikan juga: daerah-daerah mana yang gagal dikuasai pasukan Genghis Khan? Eropa tengah yang bergunung, selatan China yang penuh hutan rimba, dan Jepang yang dilindungi laut.
Selain itu, pasukan kereta, gajah, kavaleri, bahkan di jaman sekarang ini, tank; sangatlah mahal. Misalnya pasukan kereta: perlu ditarik oleh 3-4 kuda, kemudian diisi tiga orang, pengemudi, pemegang tameng, dan penombak. Pasukan kavaleri ksatria: biaya kuda dan juga membeli baju zirah itu sangat tinggi, apalagi di abad pertengahan yang belum mengenal tekhnologi modern.
Jadi apa gunanya kavaleri atau pasukan kereta, atau bahkan pasukan gajah? Tidak lain sebagai "shock troop," pasukan yang mengagetkan pasukan musuh karena kecepatan dan "terror"-nya. Bayangkan, bagaimana rasanya di depan kuda yang melaju, yang ditunggangi ksatria yang mengarahkan tombaknya kehadapan pembaca? Tentunya sangat menakutkan. Tapi shock itu hanya sementara. Korban pasukan kavaleri sendiri tak akan terlalu banyak. Begitu shock terjadi dan mengakibatkan barisan musuh terbelah dan kacau, pasukan infanteri perlu langsung dengan cepat mengisi belahan itu dan menghancurkan pasukan musuh. Tak heran kalau di medan perang, jauh lebih banyak infanteri, sedangkan cavaleri hanya sedikit. Misalnya di perang saudara US (1861-5), kedua pihak memiliki 96,885 infantry dan 10,596 kavaleri. Jadi, memang pasukan kavaleri dibutuhkan dalam perang, tapi tanpa kerja samanya dengan pasukan infanteri, pasukan kavaleri tak akan bisa memberikan kemenangan mutlak atau jangka panjang.
Sebelum pembaca merasa bahwa tulisan ini isinya hanya tentang taktik perang, mari saya sekarang masuk ke inti permasalahan yang ingin saya sampaikan dengan ilustrasi di atas; yakni persamaan antara "kavaleri-infanteri" dengan gereja Indonesia. Saya memperhatikan bahwa di milis-milis baik FICA ataupun milis Kristen lain, condong memberikan pujian kepada orang-orang yang dianggap ahli theologia atau membangkitkan semangat 45 melalui KKR. Terlihat jelas bahwa banyak gereja di Indonesia terlalu condong dalam membentuk pasukan-pasukan kavaleri seperti ahli-ahli theologia/apologetika, atau pendeta pemimpin, daripada pekerja infanteri yang sebetulnya sangat critical, seperti seorang yang kerjaannya menjadi gembala atau pekerja di background, seperti guru-guru sekolah minggu.
Ini bukan merupakan problematika yang baru. Bahkan sejak pertama kali reformasi terjadi di masa Luther, hal ini sudah menjadi masalah besar, di mana theolog-theolog baru yang dihasilkan universitas-universitas lebih tertarik untuk terjun dalam debat polemik theologia Calvinis lawan Lutheran lawan Katolik daripada menjadi pasukan infanteri yang melakukan pelayanan yang tak terlihat. Lulusan sekolah theologi lebih ditekankan ilmu debat yang menyerang Katolik, bukan pelayanan kepada jemaat. Kalau pun ada penggembalaan, fokus pelayanannya bukan kepada massa yang tak memiliki uang atau pengaruh. Contohnya ada satu gereja yang sampai menyewa tukang pukul untuk mengusir orang-orang yang dianggap kurang beriman atau kurang berpendidikan. Pada masa itu, orang-orang yang bisa mengerti theologia reformasi hanyalah sedikit, yakni intelektual yang memang bisa membaca, sedangkan agar bisa mengerti seperti itu, orang-orangnya perlu memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Pertanyaannya: siapa yang waktu itu bisa memiliki pendidikan tinggi? Hanyalah bangsawan dan orang kaya. Tak heran, akibatnya terjadi dua fakta penting yang kurang dibahas dalam sejarah gereja: reformasi menyebabkan angka orang atheis meningkat dan pengaruh Lutheran/Calvinis sendiri dalam hanya beberapa tahun setelah reformasi sebetulnya menurun drastis.
Saya tak ragu kalau hal di juga terjadi di Indonesia. Gereja kebanyakan hanya untuk orang-orang kaya. Contohnya: gedung gereja dengan harga milyaran, apakah pembantu rumah tangga atau rakyat kecil yang miskin berani masuk ke gedung-gedung seperti itu tanpa rasa risih karena mereka tak memiliki baju super mahal dan dikelilingi orang-orang yang berpakaian seperti kaisar? Kalau dengan perumpamaan saya di atas, saya bilang itu adalah gereja tipe kavaleri.
Bagaimana dengan para pendeta? Terlihat fokus dari gereja hanyalah membentuk pendeta kavaleri, yang hanya mau khotbah di depan massa yang minimal 1000 orang atau orang-orang kaya. Ini tidak salah, asalkan didukung oleh "infanteri" yang kemudian membantu orang-orang yang berhasil "dijamah" dan digembalakan. Tapi sering kali yang terjadi hanya sebuah KKR, tanpa dilanjutkan oleh usaha-usaha gereja untuk menggembalakan domba-Nya.
Memang lebih menyenangkan untuk menjadi pasukan kavaleri: tenar. lebih terlihat, lebih banyak duit, dsb. Siapa yang tak mau memimpin KKR dan digaji dengan uang kolekte sampai milyaran? Memang ada juga perhatian ditempatkan untuk pasukan infanteri, tapi permasalahannya adalah perhatiannya lebih ditujukan kepada pasukan infanteri yang berperan untuk meningkatkan keagungan pasukan kavaleri. Misalnya dalam KKR, cukup banyak perhatian ditujukan untuk pasukan infanteri yang mati-matian mengusahakan agar KKR itu terjadi seperti orang yang menyusun booklet, menghias gedung, pokoknya kacung-kacung yang tanpa meraka itu KKR tak akan bisa terjadi.
Sayangnya perhatian yang sama tak ditujukan ke pasukan infanteri lain yang tak bekerja secara langsung untuk kejayaan pasukan kavaleri itu. Misalnya infanteri pengajar sekolah Minggu. Saya sering mendengar guru-guru sekolah Minggu ditempatkan di ruangan kumuh gereja, tanpa sarana memadai. Di satu gereja, guru sekolah minggu mengajar di sebuah ruangan tempat sang pendeta memelihara hewan peliharaannya, seperti burung hias.
Sayang sekali pasukan kavaleri itu tak menyadari bahwa tanpa pasukan infanteri yang mati-matian mengajar sekolah minggu atau membantu konseling, atau pokoknya fungsi sosial lain, gereja tak akan bisa berfungsi. Di tempat lain, pasukan infanteri Kristen yang berusaha terjun di bidang politik tak didukung penuh oleh gereja. Beberapa gereja sampai melarang anggotanya ikut politik atau berpartisipasi karena ingin agar semua resources demi keagungan pasukan kavaleri gereja. Kalaupun ada resources, gereja daripada membangun sekolah untuk orang miskin atau gerakan sosial lain, lebih memfokuskan untuk membangun gedung gereja super atau sekolah yang tujuannya cari duit. Satu yayasan Kristen di Indonesia misalnya, terkenal memiliki resources yang sangat tinggi, tapi kebanyakan resourcesnya dilempar untuk membeli tanah, tanpa lebih meningkatkan sekolah atau memperbanyak sekolah untuk orang- orang miskin. Sayangnya memang penekanan gereja kita hanyalah untuk pasukan kavaleri saja.
Salah satu peserta milis ini pernah bertanya kepada saya, bahwa kenapa kok Islam kelihatannya lebih maju dari Kristen dari segi politik dan sosial? Jawaban saya adalah kehebatan mereka terletak bukan dari segi jumlah, tapi justru dari koordinasi pasukan mereka yang brilyan. Pasukan kavaleri mereka hebat-hebat, seperti Ulil, Cak Nur, Gus Dur, dsb. Hebatnya mereka juga menekankan sekali ke peran infanteri, seperti pembangunan madrasah, pesantren, dsb. Kerja sosial mereka bukan hanya seperti kita, yang bangkit kalau digebuki seperti Mei 1998, tapi justru sepanjang saat, karena mereka kuatir tentang "Kristenisasi."
Hebatnya justru kita yang sering menggembar-gemborkan bahaya "Islamisasi" tak pernah memikirkan untuk mengkoordinasi gerakan Kristen. Kebanyakan hanya tertarik sebagai pasukan kavaleri saja. Kalau ada gerakan untuk meningkatkan pasukan infanteri, kebanyakan ditentang pendeta atau penatua dengan alasan bahwa itu tak menguntungkan gereja atau tak membantu pasukan kavaleri. Justru harusnya yang terjadi sebaliknya: pasukan kavaleri digunakan untuk membantu pasukan infanteri. Kavaleri membantu untuk mendobrak musuh, menciptakan celah yang mampu diisi pasukan infanteri dengan cepat sehingga musuh bisa dikalahkan.
Yang terjadi sering kali, pendeta dengan hebatnya mengomando pasukan kavaleri maju terus ke depan, memberikan kerusakan kepada musuh, tapi kemudian pasukan musuh berbalik kembali menghancurkan kita. Contohnya apa? Itu Laskar Jihad.... Kita tahun 1980-an fokusnya sama: menyerbu dengan pasukan kavaleri tanpa mengirimkan infanteri untuk mengisi celah yang dibuat. Begitu 1990 terjadi "counterattack" oleh ICMI, DDII, dsb; kita tak memiliki infanteri untuk bertahan. Sekarang kita ada ruang untuk bernafas, walau sekejab, maukah kita membentuk taktik baru, koordinasi antara kedua pasukan untuk membentuk "Laskar Kristus" yang hebat?
Sebelum saya menyudahi tulisan ini, saya minta kepada saudara- saudari pembaca tulisan ini, tolong, kalau hari Minggu bertemu dengan guru sekolah minggu atau orang lain yang kurang dihargai pelayanannya di gereja (e.g. sound system operator, tukang sapu, dsb), tolong luangkan sedikit waktu untuk mengatakan terima kasih karena mau menjadi pasukan infanteri.
Tapi fakta aslinya tak seindah gambar-gambar itu. Hancurnya "feudalisme" di Eropa selain karena faktor sosial juga lebih banyak karena para jendral di abad pertengahan menemukan pasukan anti-kavaleri: artileri, pemanah, dan pikeman (infanteri dengan tombak panjang), yang sangat murah tapi bisa mengancurkan serangan pasukan kavaleri. Dalam fakta sejarahnya juga, pasukan kavaleri atau kereta (chariot) tak terlalu efisien kecuali dalam kondisi tertentu. Pasukan kereta memerlukan daerah yang benar-benar datar, seperti padang pasir; begitu mereka masuk ke daerah pegunungan seperti China atau Eropa, kereta tak lagi bisa efektif: mudah sekali untuk kereta-kereta tersebut untuk terbalik hanya karena menyenggol satu batu kecil. Kuda perang tak cocok bertempur di pegunungan. Penyebaran Islam yang oleh pedang, unta, dan kuda efektif di daerah Timur Tengah yang relatif datar tapi tidak di daerah Eropa yang bergunung. Perhatikan juga: daerah-daerah mana yang gagal dikuasai pasukan Genghis Khan? Eropa tengah yang bergunung, selatan China yang penuh hutan rimba, dan Jepang yang dilindungi laut.
Selain itu, pasukan kereta, gajah, kavaleri, bahkan di jaman sekarang ini, tank; sangatlah mahal. Misalnya pasukan kereta: perlu ditarik oleh 3-4 kuda, kemudian diisi tiga orang, pengemudi, pemegang tameng, dan penombak. Pasukan kavaleri ksatria: biaya kuda dan juga membeli baju zirah itu sangat tinggi, apalagi di abad pertengahan yang belum mengenal tekhnologi modern.
Jadi apa gunanya kavaleri atau pasukan kereta, atau bahkan pasukan gajah? Tidak lain sebagai "shock troop," pasukan yang mengagetkan pasukan musuh karena kecepatan dan "terror"-nya. Bayangkan, bagaimana rasanya di depan kuda yang melaju, yang ditunggangi ksatria yang mengarahkan tombaknya kehadapan pembaca? Tentunya sangat menakutkan. Tapi shock itu hanya sementara. Korban pasukan kavaleri sendiri tak akan terlalu banyak. Begitu shock terjadi dan mengakibatkan barisan musuh terbelah dan kacau, pasukan infanteri perlu langsung dengan cepat mengisi belahan itu dan menghancurkan pasukan musuh. Tak heran kalau di medan perang, jauh lebih banyak infanteri, sedangkan cavaleri hanya sedikit. Misalnya di perang saudara US (1861-5), kedua pihak memiliki 96,885 infantry dan 10,596 kavaleri. Jadi, memang pasukan kavaleri dibutuhkan dalam perang, tapi tanpa kerja samanya dengan pasukan infanteri, pasukan kavaleri tak akan bisa memberikan kemenangan mutlak atau jangka panjang.
Sebelum pembaca merasa bahwa tulisan ini isinya hanya tentang taktik perang, mari saya sekarang masuk ke inti permasalahan yang ingin saya sampaikan dengan ilustrasi di atas; yakni persamaan antara "kavaleri-infanteri" dengan gereja Indonesia. Saya memperhatikan bahwa di milis-milis baik FICA ataupun milis Kristen lain, condong memberikan pujian kepada orang-orang yang dianggap ahli theologia atau membangkitkan semangat 45 melalui KKR. Terlihat jelas bahwa banyak gereja di Indonesia terlalu condong dalam membentuk pasukan-pasukan kavaleri seperti ahli-ahli theologia/apologetika, atau pendeta pemimpin, daripada pekerja infanteri yang sebetulnya sangat critical, seperti seorang yang kerjaannya menjadi gembala atau pekerja di background, seperti guru-guru sekolah minggu.
Ini bukan merupakan problematika yang baru. Bahkan sejak pertama kali reformasi terjadi di masa Luther, hal ini sudah menjadi masalah besar, di mana theolog-theolog baru yang dihasilkan universitas-universitas lebih tertarik untuk terjun dalam debat polemik theologia Calvinis lawan Lutheran lawan Katolik daripada menjadi pasukan infanteri yang melakukan pelayanan yang tak terlihat. Lulusan sekolah theologi lebih ditekankan ilmu debat yang menyerang Katolik, bukan pelayanan kepada jemaat. Kalau pun ada penggembalaan, fokus pelayanannya bukan kepada massa yang tak memiliki uang atau pengaruh. Contohnya ada satu gereja yang sampai menyewa tukang pukul untuk mengusir orang-orang yang dianggap kurang beriman atau kurang berpendidikan. Pada masa itu, orang-orang yang bisa mengerti theologia reformasi hanyalah sedikit, yakni intelektual yang memang bisa membaca, sedangkan agar bisa mengerti seperti itu, orang-orangnya perlu memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Pertanyaannya: siapa yang waktu itu bisa memiliki pendidikan tinggi? Hanyalah bangsawan dan orang kaya. Tak heran, akibatnya terjadi dua fakta penting yang kurang dibahas dalam sejarah gereja: reformasi menyebabkan angka orang atheis meningkat dan pengaruh Lutheran/Calvinis sendiri dalam hanya beberapa tahun setelah reformasi sebetulnya menurun drastis.
Saya tak ragu kalau hal di juga terjadi di Indonesia. Gereja kebanyakan hanya untuk orang-orang kaya. Contohnya: gedung gereja dengan harga milyaran, apakah pembantu rumah tangga atau rakyat kecil yang miskin berani masuk ke gedung-gedung seperti itu tanpa rasa risih karena mereka tak memiliki baju super mahal dan dikelilingi orang-orang yang berpakaian seperti kaisar? Kalau dengan perumpamaan saya di atas, saya bilang itu adalah gereja tipe kavaleri.
Bagaimana dengan para pendeta? Terlihat fokus dari gereja hanyalah membentuk pendeta kavaleri, yang hanya mau khotbah di depan massa yang minimal 1000 orang atau orang-orang kaya. Ini tidak salah, asalkan didukung oleh "infanteri" yang kemudian membantu orang-orang yang berhasil "dijamah" dan digembalakan. Tapi sering kali yang terjadi hanya sebuah KKR, tanpa dilanjutkan oleh usaha-usaha gereja untuk menggembalakan domba-Nya.
Memang lebih menyenangkan untuk menjadi pasukan kavaleri: tenar. lebih terlihat, lebih banyak duit, dsb. Siapa yang tak mau memimpin KKR dan digaji dengan uang kolekte sampai milyaran? Memang ada juga perhatian ditempatkan untuk pasukan infanteri, tapi permasalahannya adalah perhatiannya lebih ditujukan kepada pasukan infanteri yang berperan untuk meningkatkan keagungan pasukan kavaleri. Misalnya dalam KKR, cukup banyak perhatian ditujukan untuk pasukan infanteri yang mati-matian mengusahakan agar KKR itu terjadi seperti orang yang menyusun booklet, menghias gedung, pokoknya kacung-kacung yang tanpa meraka itu KKR tak akan bisa terjadi.
Sayangnya perhatian yang sama tak ditujukan ke pasukan infanteri lain yang tak bekerja secara langsung untuk kejayaan pasukan kavaleri itu. Misalnya infanteri pengajar sekolah Minggu. Saya sering mendengar guru-guru sekolah Minggu ditempatkan di ruangan kumuh gereja, tanpa sarana memadai. Di satu gereja, guru sekolah minggu mengajar di sebuah ruangan tempat sang pendeta memelihara hewan peliharaannya, seperti burung hias.
Sayang sekali pasukan kavaleri itu tak menyadari bahwa tanpa pasukan infanteri yang mati-matian mengajar sekolah minggu atau membantu konseling, atau pokoknya fungsi sosial lain, gereja tak akan bisa berfungsi. Di tempat lain, pasukan infanteri Kristen yang berusaha terjun di bidang politik tak didukung penuh oleh gereja. Beberapa gereja sampai melarang anggotanya ikut politik atau berpartisipasi karena ingin agar semua resources demi keagungan pasukan kavaleri gereja. Kalaupun ada resources, gereja daripada membangun sekolah untuk orang miskin atau gerakan sosial lain, lebih memfokuskan untuk membangun gedung gereja super atau sekolah yang tujuannya cari duit. Satu yayasan Kristen di Indonesia misalnya, terkenal memiliki resources yang sangat tinggi, tapi kebanyakan resourcesnya dilempar untuk membeli tanah, tanpa lebih meningkatkan sekolah atau memperbanyak sekolah untuk orang- orang miskin. Sayangnya memang penekanan gereja kita hanyalah untuk pasukan kavaleri saja.
Salah satu peserta milis ini pernah bertanya kepada saya, bahwa kenapa kok Islam kelihatannya lebih maju dari Kristen dari segi politik dan sosial? Jawaban saya adalah kehebatan mereka terletak bukan dari segi jumlah, tapi justru dari koordinasi pasukan mereka yang brilyan. Pasukan kavaleri mereka hebat-hebat, seperti Ulil, Cak Nur, Gus Dur, dsb. Hebatnya mereka juga menekankan sekali ke peran infanteri, seperti pembangunan madrasah, pesantren, dsb. Kerja sosial mereka bukan hanya seperti kita, yang bangkit kalau digebuki seperti Mei 1998, tapi justru sepanjang saat, karena mereka kuatir tentang "Kristenisasi."
Hebatnya justru kita yang sering menggembar-gemborkan bahaya "Islamisasi" tak pernah memikirkan untuk mengkoordinasi gerakan Kristen. Kebanyakan hanya tertarik sebagai pasukan kavaleri saja. Kalau ada gerakan untuk meningkatkan pasukan infanteri, kebanyakan ditentang pendeta atau penatua dengan alasan bahwa itu tak menguntungkan gereja atau tak membantu pasukan kavaleri. Justru harusnya yang terjadi sebaliknya: pasukan kavaleri digunakan untuk membantu pasukan infanteri. Kavaleri membantu untuk mendobrak musuh, menciptakan celah yang mampu diisi pasukan infanteri dengan cepat sehingga musuh bisa dikalahkan.
Yang terjadi sering kali, pendeta dengan hebatnya mengomando pasukan kavaleri maju terus ke depan, memberikan kerusakan kepada musuh, tapi kemudian pasukan musuh berbalik kembali menghancurkan kita. Contohnya apa? Itu Laskar Jihad.... Kita tahun 1980-an fokusnya sama: menyerbu dengan pasukan kavaleri tanpa mengirimkan infanteri untuk mengisi celah yang dibuat. Begitu 1990 terjadi "counterattack" oleh ICMI, DDII, dsb; kita tak memiliki infanteri untuk bertahan. Sekarang kita ada ruang untuk bernafas, walau sekejab, maukah kita membentuk taktik baru, koordinasi antara kedua pasukan untuk membentuk "Laskar Kristus" yang hebat?
Sebelum saya menyudahi tulisan ini, saya minta kepada saudara- saudari pembaca tulisan ini, tolong, kalau hari Minggu bertemu dengan guru sekolah minggu atau orang lain yang kurang dihargai pelayanannya di gereja (e.g. sound system operator, tukang sapu, dsb), tolong luangkan sedikit waktu untuk mengatakan terima kasih karena mau menjadi pasukan infanteri.
CINTA
Sudah banyak lagu digubah, puisi ditulis, dan kanvas dilukis untuk menggambarkan cinta. Tapi apakah cinta itu sebenarnya? Tentunya seorang pelukis akan berbeda dengan seorang pencipta lagu dalam menjelaskan cinta. Bahkan setiap orang akan mendefinisikan cinta dengan cara yang berbeda. Sah-sah saja.
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sudah lama tertarik dengan konsep cinta (misalnya Eric Fromm, Maslow) karena manusia satu-satunya makhluk, konon, yang dapat merasakan cinta. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah konsep, cinta sedemikian abstraknya sehingga sulit untuk didekati secara ilmiah. Dalam tulisan ini dipilih teori seorang psikolog, Robert Sternberg, yang telah berusaha untuk menjabarkan cinta dalam konteks hubungan antara dua orang.
Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario†yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.
Sternberg terkenal dengan teorinya tentang segitiga cinta (bukan cinta segitiga, lho). Segitiga cinta itu mengandung komponen: (1) keintiman (intimacy), (2) gairah (passion) dan (3) komitmen.
Keintiman adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan untuk bergandengan tangan atau saling merangkul bahu.
Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.
Menurut Strenberg, setiap komponen itu pada setiap orang berbeda derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah pada komitmen (lihat tabel). Sedangkan cinta yang ideal adalah apabila ketiga komponen itu berada dalam proporsi yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen keintiman. Setelah keintiman berlanjut pada gairah yang lebih besar, (dalam beberapa budaya) disertai dengan komitmen yang lebih besar. Misalnya melalui perkawinan.
Cinta dalam sebuah hubungan ini tidak selalu berada dalam konteks pacaran atau perkawinan. Pola-pola proporsi ketiga komponen ini dapat membentuk berbagai macam tipe hubungan seperti terlihat dalam tabel berikut.
Tipe
Komponen yang hadir
Deskripsi
Nonlove
Ketiga komponen tidak ada
Ada pada kebanyakan hubungan interpersonal, seperti pertemanan biasa (hanya kenalan saja)
Liking
Hanya keintiman
Ada kedekatan, saling pengertian, dukungan emosional, dan kehangatan. Biasanya ada pada hubungan persahabatan (bisa sesama jenis kelamin)
Infatuation
Hanya gairah
Seperti pada cinta pada pandangan pertama, ketertarikan secara fisik, biasanya mudah hilang
Empty love
Hanya komitmen
Biasanya ditemukan pada pasangan yang telah menikah dalam waktu yang panjang (misalnya pada pasangan usia lanjut)
Romantic love
Keintiman dan gairah
Hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi yang kuat, tanpa ada komitmen (pacaran atau perkawinan)
Companionate love
Keintiman dan komitmen
Hubungan jangka panjang yang tidak melibatkan unsur seksual, termasuk persahabatan (juga persahabatan suami-istri)
Fatous love
Gairah dan komitmen
Hubungan dengan komitmen tertentu (misalnya perkawinan) atas dasar gairah seksual. Biasanya pada suami istri yang sudah kehilangan keintimannya
Consummate love
Semua komponen
Menjadi tujuan dari hubungan cinta yang ideal
Sumber: Papalia; Olds & Feldman. (1998). Human development (7th ed.). Boston: McGraw Hill
Pada remaja, diharapkan mereka mulai mengenali cinta melalui hubungan yang mengandung komponen keintiman. Mulai dari tahap perkenalan, lalu menjadi teman akrab, lalu sahabat. Pada tahap persahabatan, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis kelamin, diharapkan berkembang perasaan hangat, kedekatan dan emosi-emosi lain yang lebih kaya. Dalam hubungan antar jenis, persahabatan dapat berkembang dengan komitmen pacaran. Pada tahap pacaran ini keintiman dapat muncul komponen gairah dengan proporsi yang relatif rendah.
Pada pasangan yang telah dewasa, bila faktor-faktor emosional dan sosial telah dinilai siap, maka hubungan itu dapat dilanjutkan dengan membuat komitmen perkawinan. Dalam perkawinan, diharapkan ketiga komponen ini tetap hadir dan sama kuatnya.
Pada budaya tertentu, komitmen dianggap sebagai kekutan utama dalam perkawinan. Karena itu banyak perkawinan (dalam budaya tersebut) yang hanya dilandasi oleh komitmen masing-masing pihak pada lembaga perkawinan itu sendiri. Perkawinan dipandang sebagai keharusan budaya dan agama untuk melanjutkan keturunan, atau karena usia, atau untuk meningkatkan status, atau sebab-sebab lain. Perkawinan seperti ini akan terasa kering karena baik suami maupun istri hanya menjalankan kewajibannya saja.
Variasi lain, perkawinan hanya dianggap sebagai lembaga yang mensahkan hubungan seksual. Perkawinan semacam ini kehilangan sifat persahabatannya, yang ditandai dengan tidak adanya kemesraan suami istri, seperti makan bersama, berbincang-bincang, saling berpelukan dan sebagainya.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pola hubungan cinta seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya sendiri mulai dari masa kanak-kanak. Bagaimana orang tuanya saling mengekspresikan persaan cinta mereka (atau malah bertengkar melulu), hubungan awal dengan teman-teman dekat, kisah-kisah romantis sampai yang horor, dan seterusnya, akan membekas dan mempengaruhi seseorang dalam berhubungan. Karenanya setiap orang disarankan untuk menyadari kisah cinta yang ditulis untuk dirinya sendiri. Seperti apakah cinta menurut kamu?
Memang teori Strenberg tentang cinta ini belumlah lengkap dan memuaskan semua orang. Misalnya bagaimana teori ini dapat menjelaskan cinta ibu terhadap anaknya? Atau bagaimana cinta dapat dipertentangkan dengan perang dan kebencian? Hanya saja, sebagai sebuah deskripsi ilmiah terhadap fenomena cinta, teori ini dapat dikatakan cukup membantu dalam memetakan pola-pola hubungan cinta antar individu. Apa komentar kamu?
Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari manusia, sudah lama tertarik dengan konsep cinta (misalnya Eric Fromm, Maslow) karena manusia satu-satunya makhluk, konon, yang dapat merasakan cinta. Hanya saja masalahnya, sebagai sebuah konsep, cinta sedemikian abstraknya sehingga sulit untuk didekati secara ilmiah. Dalam tulisan ini dipilih teori seorang psikolog, Robert Sternberg, yang telah berusaha untuk menjabarkan cinta dalam konteks hubungan antara dua orang.
Menurut Sternberg, cinta adalah sebuah kisah, kisah yang ditulis oleh setiap orang. Kisah tersebut merefleksikan kepribadian, minat dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan. Ada kisah tentang perang memperebutkan kekuasaan, misteri, permainan dan sebagainya. Kisah pada setiap orang berasal dari “skenario†yang sudah dikenalnya, apakah dari orang tua, pengalaman, cerita dan sebagainya. Kisah ini biasanya mempengaruhi orang bagaimana ia bersikap dan bertindak dalam sebuah hubungan.
Sternberg terkenal dengan teorinya tentang segitiga cinta (bukan cinta segitiga, lho). Segitiga cinta itu mengandung komponen: (1) keintiman (intimacy), (2) gairah (passion) dan (3) komitmen.
Keintiman adalah elemen emosi, yang di dalamnya terdapat kehangatan, kepercayaan (trust) dan keinginan untuk membina hubungan. Ciri-cirinya antara lain seseorang akan merasa dekat dengan seseorang, senang bercakap-cakap dengannya sampai waktu yang lama, merasa rindu bila lama tidak bertemu, dan ada keinginan untuk bergandengan tangan atau saling merangkul bahu.
Gairah adalah elemen motivasional yang didasari oleh dorongan dari dalam diri yang bersifat seksual.
Komitmen adalah elemen kognitif, berupa keputusan untuk secara sinambung dan tetap menjalankan suatu kehidupan bersama.
Menurut Strenberg, setiap komponen itu pada setiap orang berbeda derajatnya. Ada yang hanya tinggi di gairah, tapi rendah pada komitmen (lihat tabel). Sedangkan cinta yang ideal adalah apabila ketiga komponen itu berada dalam proporsi yang sesuai pada suatu waktu tertentu. Misalnya pada tahap awal hubungan, yang paling besar adalah komponen keintiman. Setelah keintiman berlanjut pada gairah yang lebih besar, (dalam beberapa budaya) disertai dengan komitmen yang lebih besar. Misalnya melalui perkawinan.
Cinta dalam sebuah hubungan ini tidak selalu berada dalam konteks pacaran atau perkawinan. Pola-pola proporsi ketiga komponen ini dapat membentuk berbagai macam tipe hubungan seperti terlihat dalam tabel berikut.
Tipe
Komponen yang hadir
Deskripsi
Nonlove
Ketiga komponen tidak ada
Ada pada kebanyakan hubungan interpersonal, seperti pertemanan biasa (hanya kenalan saja)
Liking
Hanya keintiman
Ada kedekatan, saling pengertian, dukungan emosional, dan kehangatan. Biasanya ada pada hubungan persahabatan (bisa sesama jenis kelamin)
Infatuation
Hanya gairah
Seperti pada cinta pada pandangan pertama, ketertarikan secara fisik, biasanya mudah hilang
Empty love
Hanya komitmen
Biasanya ditemukan pada pasangan yang telah menikah dalam waktu yang panjang (misalnya pada pasangan usia lanjut)
Romantic love
Keintiman dan gairah
Hubungan yang melibatkan gairah fisik maupun emosi yang kuat, tanpa ada komitmen (pacaran atau perkawinan)
Companionate love
Keintiman dan komitmen
Hubungan jangka panjang yang tidak melibatkan unsur seksual, termasuk persahabatan (juga persahabatan suami-istri)
Fatous love
Gairah dan komitmen
Hubungan dengan komitmen tertentu (misalnya perkawinan) atas dasar gairah seksual. Biasanya pada suami istri yang sudah kehilangan keintimannya
Consummate love
Semua komponen
Menjadi tujuan dari hubungan cinta yang ideal
Sumber: Papalia; Olds & Feldman. (1998). Human development (7th ed.). Boston: McGraw Hill
Pada remaja, diharapkan mereka mulai mengenali cinta melalui hubungan yang mengandung komponen keintiman. Mulai dari tahap perkenalan, lalu menjadi teman akrab, lalu sahabat. Pada tahap persahabatan, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis kelamin, diharapkan berkembang perasaan hangat, kedekatan dan emosi-emosi lain yang lebih kaya. Dalam hubungan antar jenis, persahabatan dapat berkembang dengan komitmen pacaran. Pada tahap pacaran ini keintiman dapat muncul komponen gairah dengan proporsi yang relatif rendah.
Pada pasangan yang telah dewasa, bila faktor-faktor emosional dan sosial telah dinilai siap, maka hubungan itu dapat dilanjutkan dengan membuat komitmen perkawinan. Dalam perkawinan, diharapkan ketiga komponen ini tetap hadir dan sama kuatnya.
Pada budaya tertentu, komitmen dianggap sebagai kekutan utama dalam perkawinan. Karena itu banyak perkawinan (dalam budaya tersebut) yang hanya dilandasi oleh komitmen masing-masing pihak pada lembaga perkawinan itu sendiri. Perkawinan dipandang sebagai keharusan budaya dan agama untuk melanjutkan keturunan, atau karena usia, atau untuk meningkatkan status, atau sebab-sebab lain. Perkawinan seperti ini akan terasa kering karena baik suami maupun istri hanya menjalankan kewajibannya saja.
Variasi lain, perkawinan hanya dianggap sebagai lembaga yang mensahkan hubungan seksual. Perkawinan semacam ini kehilangan sifat persahabatannya, yang ditandai dengan tidak adanya kemesraan suami istri, seperti makan bersama, berbincang-bincang, saling berpelukan dan sebagainya.
Seperti telah diuraikan sebelumnya, pola hubungan cinta seseorang sangat ditentukan oleh pengalamannya sendiri mulai dari masa kanak-kanak. Bagaimana orang tuanya saling mengekspresikan persaan cinta mereka (atau malah bertengkar melulu), hubungan awal dengan teman-teman dekat, kisah-kisah romantis sampai yang horor, dan seterusnya, akan membekas dan mempengaruhi seseorang dalam berhubungan. Karenanya setiap orang disarankan untuk menyadari kisah cinta yang ditulis untuk dirinya sendiri. Seperti apakah cinta menurut kamu?
Memang teori Strenberg tentang cinta ini belumlah lengkap dan memuaskan semua orang. Misalnya bagaimana teori ini dapat menjelaskan cinta ibu terhadap anaknya? Atau bagaimana cinta dapat dipertentangkan dengan perang dan kebencian? Hanya saja, sebagai sebuah deskripsi ilmiah terhadap fenomena cinta, teori ini dapat dikatakan cukup membantu dalam memetakan pola-pola hubungan cinta antar individu. Apa komentar kamu?
Memupuk Rasa Percaya Diri
Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari "tidak pede" dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan? Saya yakin hampir setiap orang pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam rentang kehidupannya, sejak masih anak-anak hingga dewasa bahkan sampai usia lanjut. Ruang konseling di website inipun banyak diwarnai dengan pertanyaan seputar kasus-kasus yang berhubungan dengan krisis kepercayaan diri tersebut. Sudah tentu, hilangnya rasa percaya diri menjadi sesuatu yang amat mengganggu, terlebih ketika dihadapkan pada tantangan atau pun situasi baru. Individu sering berkata pada diri sendiri, "dulu saya tidak penakut seperti ini....kenapa sekarang jadi begini ?" ada juga yang berkata: "kok saya tidak seperti dia,...yang selalu percaya diri...rasanya selalu saja ada yang kurang dari diri saya...saya malu menjadi diri saya!"
Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka akan muncul pertanyaan dalam benak kita: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam kehidupan individu. Lalu apakah kurangnya rasa percaya diri dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan individu dalam menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal. Jika memang rasa kurnag percaya diri dapat diperbaiki, langkah-langkah apakah yang harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam artikel ini.
Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri, alias "sakti". Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa - karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.
Karakteristik
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah :
Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain
Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok
Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain - berani menjadi diri sendiri
Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil)
Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)
Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain dan situasi di luar dirinya
Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang kurang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya adalah:
Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan dir) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri - namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil
Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena undervalue diri sendiri)
Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu
Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangattergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain)
Perkembangan Rasa Percaya Diri
Pola Asuh
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orangtua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, namun faktor pola asuh dan interaksi di usia dini, merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri.Sikap orangtua, akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. orangtua yang menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orangtuanya. Dan, meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua anak melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksisitensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri - seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.
Lain halnya dengan orangtua yang kurang memberikan perhatian pada anak, atau suka mengkritik, sering memarahi anak namun kalau anak berbuat baik tidak pernah dipuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau pun seolah menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan ketergantungan. Tindakan overprotective orangtua, menghambat perkembangan kepercayaan diri pada anak karena anak tidak belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri - segala sesuatu disediakan dan dibantu orangtua. Anak akan merasa, bahwa dirinya buruk, lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah menyenangkan dan membahagiakan orangtua. Anak akan merasa rendah diri di mata saudara kandungnya yang lain atau di hadapan teman-temannya.
Menurut para psikolog, orangtua dan masyarakat seringkali meletakkan standar dan harapan yang kurang realistik terhadap seorang anak atau pun individu. Sikap suka membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan kelemahan anak, atau pun membicarakan kelebihan anak lain di depan anak sendiri, tanpa sadar menjatuhkan harga diri anak-anak tersebut. Selain itu, tanpa sadar masyarakat sering menciptakan trend yang dijadikan standar patokan sebuah prestasi atau pun penerimaan sosial. Contoh kasus yang riil pernah terjadi di tanah air, ketika seorang anak bunuh diri gara-gara dirinya tidak diterima masuk di jurusan A1 (IPA), meski dia sudah bersekolah di tempat yang elit; rupanya sang orangtua mengharap anaknya diterima di A1 atau paling tidak A2, agar kelak bisa menjadi dokter. Atau, orangtua yang memaksakan anaknya ikut les ini dan itu, hanya karena anak-anak lainnya pun demikian.
Situasi ini pada akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena di masa lalu (bahkan hingga kini), setiap orang mengharapkan dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Dengan kata lain, memenuhi harapan sosial. Akhirnya, anak tumbuh menjadi individu yang punya pola pikir : bahwa untuk bisa diterima, dihargai, dicintai, dan diakui, harus menyenangkan orang lain dan mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu tersebut ditantang untuk menjadi diri sendiri - mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya. Rasa percaya dirinya begitu lemah, sementara ketakutannya terlalu besar.
Pola Pikir Negatif
Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru, dsb. Reaksi individu terhadap seseorang atau pun sebuah peristiwa, amat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinya lah semua negativisme itu berasal. Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri ("saya harus bisa begini...saya harus bisa begitu"). Ketika gagal, individu tersebut merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
Cara berpikir totalitas dan dualisme : "kalau saya sampai gagal, berarti saya memang jelek"
Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah, langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism : suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
Labeling : mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif, seperti "saya memang bodoh"..."saya ditakdirkan untuk jadi orang susah", dsb....
Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain : ketika orang memuji secara tulus, individu langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, individu tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.
Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri : senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil, membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna.
Memupuk Rasa Percaya Diri
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran berikut mungkin layak menjadi pertimbangkan jika anda sedang mengalami krisis kepercayaan diri.
1. Evaluasi diri secara obyektif
Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar "kekayaan" pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri. Sadari semua asset-asset berharga Anda dan temukan asset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri Anda, seperti : pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain. Hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Obstacles and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik.
2. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan/meremehkan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu Anda menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri - hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.
3. Positive thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak Anda. Anda bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobodys perfect dan its okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan Anda. Hati-hatilah agar masa depan Anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.
4. Gunakan self-affirmation
Untuk memerangi negative thinking, gunakan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. Contohnya:
Saya pasti bisa !!
Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya !
Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan
Sayalah yang memegang kendali hidup ini
Saya bangga pada diri sendiri
5. Berani mengambil resiko
Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif, Anda bisa memprediksi resiko setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, Anda tidak perlu menghindari setiap resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi resikonya. Contohnya, Anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari resiko ditolak. Jika Anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju bertumbuh dengan mengambil resiko. Ingat: No Risk, No Gain.
6. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan
Ada pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterimanya dalam hidup. Artinya, individu tersebut tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. Akibatnya, ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya. Ia adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak pernah melihat matahari terbit. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan keputusasaan. Dengan "beban" seperti itu, bagaimana individu itu bisa menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya? Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis, karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat "cemburu" hatinya. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang Anda alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup Anda.
7. Menetapkan tujuan yang realistik
Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang Anda tetapkan selama ini, dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak diinginkan.
Mungkin masih ada beberapa cara lain yang efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jika anda dapat melakukan beberapa hal serpti yang disarankan di atas, niscaya anada akan terbebas dari krisis kepercayaan diri. Namun demikian satu hal perlu diingat baik-baik adalah jangan sampai anda mengalami over confidence atau rasa percaya diri yang berlebih-lebihan/overdosis. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah menggambar kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya diri yang bersifat semu.
Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar melandasi motivasi individu untuk "harus" menjadi orang sukses. Selain itu, persepsi yang keliru pun dapat menimbulkan asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar tidak dilandasi oleh kemampuan yang nyata. Hal ini pun bisa didapat dari lingkungan di mana individu di besarkan, dari teman-teman (peer group) atau dari dirinya sendiri (konsep diri yang tidak sehat). Contohnya, seorang anak yang sejak lahir ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya adalah spesial, istimewa, pandai, pasti akan menjadi orang sukses, dsb - namun dalam perjalanan waktu anak itu sendiri tidak pernah punya track record of success yang riil dan original (atas dasar usahanya sendiri). Akibatnya, anak tersebut tumbuh menjadi seorang manipulator dan dan otoriter - memperalat, menguasai dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan oleh real competence, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama besar orangtua, dsb. Jadi, jika semua atribut itu ditanggalkan, maka sang individu tersebut bukan siapa-siapa. (jp)
Menyikapi kondisi seperti tersebut diatas maka akan muncul pertanyaan dalam benak kita: mengapa rasa percaya diri begitu penting dalam kehidupan individu. Lalu apakah kurangnya rasa percaya diri dapat diperbaiki sehingga tidak menghambat perkembangan individu dalam menjalankan tugas sehari-hari maupun dalam hubungan interpersonal. Jika memang rasa kurnag percaya diri dapat diperbaiki, langkah-langkah apakah yang harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan saya jawab dalam artikel ini.
Kepercayaan Diri
Kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan/situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri, alias "sakti". Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu tersebut dimana ia merasa memiliki kompetensi, yakin, mampu dan percaya bahwa dia bisa - karena didukung oleh pengalaman, potensi aktual, prestasi serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri.
Karakteristik
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proporsional, diantaranya adalah :
Percaya akan kompetensi/kemampuan diri, hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain
Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok
Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain - berani menjadi diri sendiri
Punya pengendalian diri yang baik (tidak moody dan emosinya stabil)
Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan atau kegagalan, tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung/mengharapkan bantuan orang lain)
Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, ornag lain dan situasi di luar dirinya
Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, ia tetap mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi.
Karakteristik atau ciri-ciri Individu yang kurang percaya diri
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya adalah:
Berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
Menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
Sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan dir) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri - namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil
Cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena undervalue diri sendiri)
Selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu
Mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangattergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain)
Perkembangan Rasa Percaya Diri
Pola Asuh
Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri bukanlah diperoleh secara instant, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orangtua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, namun faktor pola asuh dan interaksi di usia dini, merupakan faktor yang amat mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri.Sikap orangtua, akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. orangtua yang menunjukkan kasih, perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak, akan membangkitkan rasa percara diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai di mata orangtuanya. Dan, meskipun ia melakukan kesalahan, dari sikap orangtua anak melihat bahwa dirinya tetaplah dihargai dan dikasihi. Anak dicintai dan dihargai bukan tergantung pada prestasi atau perbuatan baiknya, namun karena eksisitensinya. Di kemudian hari anak tersebut akan tumbuh menjadi individu yang mampu menilai positif dirinya dan mempunyai harapan yang realistik terhadap diri - seperti orangtuanya meletakkan harapan realistik terhadap dirinya.
Lain halnya dengan orangtua yang kurang memberikan perhatian pada anak, atau suka mengkritik, sering memarahi anak namun kalau anak berbuat baik tidak pernah dipuji, tidak pernah puas dengan hasil yang dicapai oleh anak, atau pun seolah menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada kemampuan dan kemandirian anak dengan sikap overprotective yang makin meningkatkan ketergantungan. Tindakan overprotective orangtua, menghambat perkembangan kepercayaan diri pada anak karena anak tidak belajar mengatasi problem dan tantangannya sendiri - segala sesuatu disediakan dan dibantu orangtua. Anak akan merasa, bahwa dirinya buruk, lemah, tidak dicintai, tidak dibutuhkan, selalu gagal, tidak pernah menyenangkan dan membahagiakan orangtua. Anak akan merasa rendah diri di mata saudara kandungnya yang lain atau di hadapan teman-temannya.
Menurut para psikolog, orangtua dan masyarakat seringkali meletakkan standar dan harapan yang kurang realistik terhadap seorang anak atau pun individu. Sikap suka membanding-bandingkan anak, mempergunjingkan kelemahan anak, atau pun membicarakan kelebihan anak lain di depan anak sendiri, tanpa sadar menjatuhkan harga diri anak-anak tersebut. Selain itu, tanpa sadar masyarakat sering menciptakan trend yang dijadikan standar patokan sebuah prestasi atau pun penerimaan sosial. Contoh kasus yang riil pernah terjadi di tanah air, ketika seorang anak bunuh diri gara-gara dirinya tidak diterima masuk di jurusan A1 (IPA), meski dia sudah bersekolah di tempat yang elit; rupanya sang orangtua mengharap anaknya diterima di A1 atau paling tidak A2, agar kelak bisa menjadi dokter. Atau, orangtua yang memaksakan anaknya ikut les ini dan itu, hanya karena anak-anak lainnya pun demikian.
Situasi ini pada akhirnya mendorong anak tumbuh menjadi individu yang tidak bisa menerima kenyataan dirinya, karena di masa lalu (bahkan hingga kini), setiap orang mengharapkan dirinya menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Dengan kata lain, memenuhi harapan sosial. Akhirnya, anak tumbuh menjadi individu yang punya pola pikir : bahwa untuk bisa diterima, dihargai, dicintai, dan diakui, harus menyenangkan orang lain dan mengikuti keinginan mereka. Pada saat individu tersebut ditantang untuk menjadi diri sendiri - mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya. Rasa percaya dirinya begitu lemah, sementara ketakutannya terlalu besar.
Pola Pikir Negatif
Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru, dsb. Reaksi individu terhadap seseorang atau pun sebuah peristiwa, amat dipengaruhi oleh cara berpikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempersepsi segala sesuatu dari sisi negatif. Ia tidak menyadari bahwa dari dalam dirinya lah semua negativisme itu berasal. Pola pikir individu yang kurang percaya diri, bercirikan antara lain:
Menekankan keharusan-keharusan pada diri sendiri ("saya harus bisa begini...saya harus bisa begitu"). Ketika gagal, individu tersebut merasa seluruh hidup dan masa depannya hancur.
Cara berpikir totalitas dan dualisme : "kalau saya sampai gagal, berarti saya memang jelek"
Pesimistik yang futuristik : satu saja kegagalan kecil, individu tersebut sudah merasa tidak akan berhasil meraih cita-citanya di masa depan. Misalnya, mendapat nilai C pada salah satu mata kuliah, langsung berpikir dirinya tidak akan lulus sarjana.
Tidak kritis dan selektif terhadap self-criticism : suka mengkritik diri sendiri dan percaya bahwa dirinya memang pantas dikritik.
Labeling : mudah menyalahkan diri sendiri dan memberikan sebutan-sebutan negatif, seperti "saya memang bodoh"..."saya ditakdirkan untuk jadi orang susah", dsb....
Sulit menerima pujian atau pun hal-hal positif dari orang lain : ketika orang memuji secara tulus, individu langsung merasa tidak enak dan menolak mentah-mentah pujiannya. Ketika diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menerima tugas atau peran yang penting, individu tersebut langsung menolak dengan alasan tidak pantas dan tidak layak untuk menerimanya.
Suka mengecilkan arti keberhasilan diri sendiri : senang mengingat dan bahkan membesar-besarkan kesalahan yang dibuat, namun mengecilkan keberhasilan yang pernah diraih. Satu kesalahan kecil, membuat individu langsung merasa menjadi orang tidak berguna.
Memupuk Rasa Percaya Diri
Untuk menumbuhkan rasa percaya diri yang proporsional maka individu harus memulainya dari dalam diri sendiri. Hal ini sangat penting mengingat bahwa hanya individu yang bersangkutan yang dapat mengatasi rasa kurang percaya diri yang sedang dialaminya. Beberapa saran berikut mungkin layak menjadi pertimbangkan jika anda sedang mengalami krisis kepercayaan diri.
1. Evaluasi diri secara obyektif
Belajar menilai diri secara obyektif dan jujur. Susunlah daftar "kekayaan" pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau pun sarana yang mendukung kemajuan diri. Sadari semua asset-asset berharga Anda dan temukan asset yang belum dikembangkan. Pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri Anda, seperti : pola berpikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, tergantung pada bantuan orang lain, atau pun sebab-sebab eksternal lain. Hasil analisa dan pemetaan terhadap SWOT (Strengths, Weaknesses, Obstacles and Threats) diri, kemudian digunakan untuk membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang lebih realistik.
2. Beri penghargaan yang jujur terhadap diri
Sadari dan hargailah sekecil apapun keberhasilan dan potensi yang anda miliki. Ingatlah bahwa semua itu didapat melalui proses belajar, berevolusi dan transformasi diri sejak dahulu hingga kini. Mengabaikan/meremehkan satu saja prestasi yang pernah diraih, berarti mengabaikan atau menghilangkan satu jejak yang membantu Anda menemukan jalan yang tepat menuju masa depan. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri, mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan; contoh: ingin cepat kaya, ingin cantik, populer, mendapat jabatan penting dengan segala cara. Jika ditelaah lebih lanjut semua itu sebenarnya bersumber dari rasa rendah diri yang kronis, penolakan terhadap diri sendiri, ketidakmampuan menghargai diri sendiri - hingga berusaha mati-matian menutupi keaslian diri.
3. Positive thinking
Cobalah memerangi setiap asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul dalam benak Anda. Anda bisa katakan pada diri sendiri, bahwa nobodys perfect dan its okay if I made a mistake. Jangan biarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Semakin besar dan menyebar, makin sulit dikendalikan dan dipotong. Jangan biarkan pikiran negatif menguasai pikiran dan perasaan Anda. Hati-hatilah agar masa depan Anda tidak rusak karena keputusan keliru yang dihasilkan oleh pikiran keliru. Jika pikiran itu muncul, cobalah menuliskannya untuk kemudian di re-view kembali secara logis dan rasional. Pada umumnya, orang lebih bisa melihat bahwa pikiran itu ternyata tidak benar.
4. Gunakan self-affirmation
Untuk memerangi negative thinking, gunakan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri. Contohnya:
Saya pasti bisa !!
Saya adalah penentu dari hidup saya sendiri. Tidak ada orang yang boleh menentukan hidup saya !
Saya bisa belajar dari kesalahan ini. Kesalahan ini sungguh menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan
Sayalah yang memegang kendali hidup ini
Saya bangga pada diri sendiri
5. Berani mengambil resiko
Berdasarkan pemahaman diri yang obyektif, Anda bisa memprediksi resiko setiap tantangan yang dihadapi. Dengan demikian, Anda tidak perlu menghindari setiap resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah atau pun mengatasi resikonya. Contohnya, Anda tidak perlu menyenangkan orang lain untuk menghindari resiko ditolak. Jika Anda ingin mengembangkan diri sendiri (bukan diri seperti yang diharapkan orang lain), pasti ada resiko dan tantangannya. Namun, lebih buruk berdiam diri dan tidak berbuat apa-apa daripada maju bertumbuh dengan mengambil resiko. Ingat: No Risk, No Gain.
6. Belajar mensyukuri dan menikmati rahmat Tuhan
Ada pepatah mengatakan yang mengatakan orang yang paling menderita hidupnya adalah orang yang tidak bisa bersyukur pada Tuhan atas apa yang telah diterimanya dalam hidup. Artinya, individu tersebut tidak pernah berusaha melihat segala sesuatu dari kaca mata positif. Bahkan kehidupan yang dijalaninya selama ini pun tidak dilihat sebagai pemberian dari Tuhan. Akibatnya, ia tidak bisa bersyukur atas semua berkat, kekayaan, kelimpahan, prestasi, pekerjaan, kemampuan, keahlian, uang, keberhasilan, kegagalan, kesulitan serta berbagai pengalaman hidupnya. Ia adalah ibarat orang yang selalu melihat matahari tenggelam, tidak pernah melihat matahari terbit. Hidupnya dipenuhi dengan keluhan, rasa marah, iri hati dan dengki, kecemburuan, kekecewaan, kekesalan, kepahitan dan keputusasaan. Dengan "beban" seperti itu, bagaimana individu itu bisa menikmati hidup dan melihat hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya? Tidak heran jika dirinya dihinggapi rasa kurang percaya diri yang kronis, karena selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang yang membuat "cemburu" hatinya. Oleh sebab itu, belajarlah bersyukur atas apapun yang Anda alami dan percayalah bahwa Tuhan pasti menginginkan yang terbaik untuk hidup Anda.
7. Menetapkan tujuan yang realistik
Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan yang Anda tetapkan selama ini, dalam arti apakah tujuan tersebut sudah realistik atau tidak. Dengan menerapkan tujuan yang lebih realistik, maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan dan keputusan dalam mencapai masa depan, sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak diinginkan.
Mungkin masih ada beberapa cara lain yang efektif untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Jika anda dapat melakukan beberapa hal serpti yang disarankan di atas, niscaya anada akan terbebas dari krisis kepercayaan diri. Namun demikian satu hal perlu diingat baik-baik adalah jangan sampai anda mengalami over confidence atau rasa percaya diri yang berlebih-lebihan/overdosis. Rasa percaya diri yang overdosis bukanlah menggambar kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya diri yang bersifat semu.
Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar melandasi motivasi individu untuk "harus" menjadi orang sukses. Selain itu, persepsi yang keliru pun dapat menimbulkan asumsi yang keliru tentang diri sendiri hingga rasa percaya diri yang begitu besar tidak dilandasi oleh kemampuan yang nyata. Hal ini pun bisa didapat dari lingkungan di mana individu di besarkan, dari teman-teman (peer group) atau dari dirinya sendiri (konsep diri yang tidak sehat). Contohnya, seorang anak yang sejak lahir ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya adalah spesial, istimewa, pandai, pasti akan menjadi orang sukses, dsb - namun dalam perjalanan waktu anak itu sendiri tidak pernah punya track record of success yang riil dan original (atas dasar usahanya sendiri). Akibatnya, anak tersebut tumbuh menjadi seorang manipulator dan dan otoriter - memperalat, menguasai dan mengendalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan oleh real competence, tapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama besar orangtua, dsb. Jadi, jika semua atribut itu ditanggalkan, maka sang individu tersebut bukan siapa-siapa. (jp)
Junta Militer Kuasai Yangon
Hari Ini Jenderal Than Shwe dan Ibrahim Gambari Bertemu YANGON - Harapan adanya perubahan signifikan di Myanmar setelah hadirnya utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai meredup. Sampai kemarin rombongan PBB yang dipimpin diplomat senior asal Nigeria, Ibrahim Gambari, tak kunjung ditemui Jenderal Senior Tha Shwe. Padahal, pertemuan dengan pemimpin tertinggi junta militer itu adalah kunci penting untuk membuka dialog antara pemerintah militer dan kelompok prodemokrasi. Sejak datang ke Myanmar Sabtu (29/9), junta militer seperti setengah hati menerima utusan khusus PBB. Kesediaan menerima kedatangan Ibrahim Gambari hanya untuk memenuhi tekanan dunia internasional, khususnya sekutu utama junta, Tiongkok. Sejumlah pejabat junta memang menyambut kedatangan Gambari. Tetapi, Jenderal Than Shwe tidak terlihat. "Sepertinya kami belum bisa keluar Myanmar dengan lega, sebelum pertemuan Gambari-Than Shwe terwujud," ujar seorang diplomat Asia di rombongan PBB yang menolak disebut namanya kemarin. Than Shwe memang sengaja mengukur-ulur waktu pertemuan dengan Gambari. Dia masih menunggu aksi perlawanan terhadap junta militer yang dipimpinnya betul-betul mereda. Seharian kemarin Gambari kembali gagal menemui Than Shwe. Padahal, usai bertemu pemimpin kelompok prodemokrasi Aung San Suu Kyi pada Minggu (30/9) di Yangon, Gambari langsung terbang ke Naypyidaw, ibu kota baru Myanmar yang terletak di tengah hutan dan berjarak 350 km di utara Yangon dengan harapan bisa bertemu Than Shwe.Jangankan menemui Gambari, Than Shwe malah menyuruh anak buahnya membawa rombongan PBB ke negara bagian Shan di wilayah utara. Di sana Gambari diplot menjadi pembicara dalam sebuah seminar tentang hubungan Eropa dan Asia Tenggara. Usai pertemuan, baru rombongan PBB dikabari bahwa sang jenderal bersedia bertemu dengan utusan PBB hari ini, Selasa (2/10)."Jika pertemuan itu terjadi, pada hari itu juga kami akan balik (keluar dari Myanmar, Red)," ujar seorang diplomat. Sumber diplomat itu juga menambahkan, Gambari akan menyampaikan pesan dari Aung San Suu Kyi saat bertemu Jenderal Than Shwe. Sejumlah pejabat PBB yang dikonfirmasi tentang isi pesan Suu kyi menolak berkomentar. Seberapa pun besarnya upaya yang dilakukan Gambari, tidak ada kejelasan apakah dia dapat menuntaskan misinya di Myanmar. Junta militer selama ini telah beberapa kali menampik upaya-upaya PBB untuk mempromosikan demokrasi. Gambari sendiri pernah berbicara secara pribadi dengan Suu Kyi hampir setahun lalu, tetapi tidak pernah terlihat apa yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut.Sementara itu, situasi di Yangon kemarin berangsur normal. Aksi perlawanan dalam bentuk demonstrasi di jalanan yang dipimpin para biksu seminggu lalu perlahan mulai menghilang. Imbauan mogok masal yang digalang kelompok biksu direspons warga dengan menunda aktivitas sehari-hari. Kegiatan hanya tampak di kantor-kantor pemerintah. Pusat ekonomi seperti pasar masih lumpuh. Sebagian besar toko juga tutup. Lampu lalu lintas mulai menyala, jumlah kendaraan yang lewat terus bertambah. Tentara dan polisi huru-hara masih memenuhi jalan utama kota. Namun, berbeda dengan hari-hari sebelumnya, tentara mulai memindahkan penghalang jalan untuk mengurangi ketegangan. Dikabarkan sejumlah tentara dan polisi huru-hara telah dipindahkan dari pusat kota ke wilayah pinggiran.Sejumlah tentara masih memeriksa sejumlah mobil dan bus serta memantau kota dengan helikopter. Sejumlah biksu juga sudah diizinkan meninggalkan biara untuk mengumpulkan sumbangan makanan, meski masih dipantau oleh tentara yang terlihat santai di bawah pohon. "Situasi mulai normal saat ini. Lalu lintas tampak lancar, banyak kendaraan militer yang disimpan di tempat yang tidak terlalu terlihat," ungkap Duta Besar Inggris Mark Canning. Dari Bangkok dilaporkan aksi massa masih terjadi di pinggiran Yangon, tepatnya di distrik Insein (dekat penjara terbesar di Myanmar yang terletak di sebelah utara Yangon), dan bagian selatan Yangon. Di Insein kemarin berkumpul sekitar 2.000 warga yang dipimpin sekitar 50 biksu. Sebaliknya, dari bagian selatan telah berkumpul 1.500 orang. Kedua kumpulan massa tersebut bergerak bersamaan menuju ke pusat kota Yangon.Sayang, sekitar pukul 16.00, sebelum memasuki pusat kota Yangon, keduanya sudah dibubarkan pasukan junta. Seperti biasa, untuk menghindari jatuhnya korban dan penangkapan, massa langsung berlari kembali dan melarikan diri. "Bukannya kami takut, tapi kami hanya ingin mengirim pesan kalau kami masih ada dan terus melanjutkan aksi. Namun, tentu saja kami tak berlaku konyol dengan menghadapi mereka (tentara dan polisi) secara langsung," papar sumber yang tak mau dikutip namanya tersebut.Sumber tersebut menyatakan, rakyat kini punya simbol dan tanda bersama untuk saling mendukung perjuangan. Apa itu? "Setiap malam, selama 15 menit, kami akan mematikan lampu," ucapnya. Dia mengatakan, aksi tersebut dimulai pukul 20.00 - 20.15. "Biar mereka (rezim militer, Red) mengetahui kalau kekerasan tak akan menyurutkan perlawanan kami," tandasnya. Waktu pukul 20.00 dipilih karena biasanya pada jam tersebut, TV lokal Myanmar menyiarkan berita atau pesan dari pemerintah. (afp/ap/*)
Langganan:
Postingan (Atom)

